Bersedialah untuk berubah (1)
Sadari bahwa tanpa perubahan, tidak akan ada kemajuan. Sekarang, kita bukan sedang menganjurkan perubahan hanya demi perubahan itu sendiri. Itu bisa menjadi tanda dari kegelisahan dan gejala konflik batin. Perubahan bisa membawa peluang besar, tetapi juga potensi kerugian. Meskipun setiap kemajuan menghasilkan perubahan, tidak setiap perubahan menghasilkan kemajuan. Namun seperti yang dikatakan oleh pakar kepemimpinan Max DePree, ‘Kita tidak bisa menjadi seperti yang seharusnya kita jadi, jika kita tetap seperti sekarang.’ Jika Anda ingin bertumbuh, Anda harus bersedia berubah. Jenderal Douglas MacArthur, pahlawan Perang Pasifik, berkata, ‘Hidup adalah proses menjadi yang terus-menerus. Jika Anda belum menambah minat atau ketertarikan dalam setahun terakhir, jika Anda masih memikirkan hal-hal lama, menceritakan pengalaman pribadi yang sama, dan bereaksi dengan cara yang dapat ditebak, maka kepribadian Anda telah mengalami rigor mortis.’ Anda menangkap maksud kalimat terakhir itu? Rigor mortis adalah kekakuan fisik yang terjadi setelah kematian. Dan itu bisa terjadi pada Anda — secara relasional, dalam karier, maupun secara rohani.
Dalam 1 Timotius 4, Paulus sedang membimbing anak rohaninya, Timotius, untuk memimpin jemaat saat Paulus tidak ada. Paulus ingin Timotius tahu bahwa dia tidak bisa mewarisi jubah kepemimpinan karena ia disayangi, ia harus mengusahakannya. Dan itu berarti mengusahakan pertumbuhan dalam dirinya sendiri! ‘Perhatikanlah semuanya itu, hiduplah di dalamnya supaya kemajuanmu nyata kepada semua orang.’ Peluang hidup datang kepada kita semua, tetapi hanya dikenali dan dimanfaatkan oleh mereka yang siap. Itu berarti bersedia untuk bertumbuh, beradaptasi, dan berubah.