Berlatihlah untuk bersikap lembut hati
Dalam buku terlarisnya 7 Kebiasaan Orang yang Sangat Efektif , Stephen Covey menceritakan pengalaman yang dialaminya di kereta bawah tanah di New York. Seorang pria dan anak-anaknya menaiki kereta, dan anak-anak itu sangat berisik dan gaduh sehingga mengganggu seluruh gerbong. Pria itu duduk di samping Covey, dan tampaknya tidak menyadari situasi tersebut. Stephen akhirnya berkata, "Tuan, anak-anak Anda mengganggu banyak orang. Apakah Anda tidak bisa mengendalikan mereka sedikit lebih baik?" Pria itu tampak terkejut. Kemudian dia berkata, "Oh, Anda benar. Saya rasa saya harus melakukan sesuatu. Kami baru saja pulang dari rumah sakit dan ibu mereka meninggal sekitar satu jam yang lalu. Saya tidak tahu harus berpikir apa, dan saya rasa mereka juga tidak tahu bagaimana mengatasinya." Sikap Stephen langsung berubah. Ketika mengingatnya kembali, ini suatu pelajaran berharga: berusahalah untuk mengerti sebelum berusaha untuk dimengerti.
Terkadang orang yang membuat kesal kita, melakukannya karena mereka sendiri sedang kesakitan. Mereka menghadapi masalah yang kita tidak ketahui. Ketika mereka marah, itu hanyalah luapan frustrasi pribadi. Kita perlu untuk melihat lebih jauh dari sekadar kata-kata dan tindakan mereka, serta mencoba melihat hati mereka. Itu akan sulit dilakukan jika Anda hanya mementingkan diri sendiri. Alkitab menjawab hal ini: ‘Segala kepahitan, kegeraman, kemarahan, pertikaian dan fitnah hendaklah dibuang dari antara kamu, demikian pula segala kejahatan. Tetapi hendaklah kamu ramah seorang terhadap yang lain, penuh kasih mesra dan saling mengampuni, sebagaimana Allah di dalam Kristus telah mengampuni kamu.’ (Ef 4:31–32) Jika Anda selama ini marah terhadap orang-orang yang tinggal dan bekerja bersama Anda, kata yang tepat untuk hari ini adalah—berlatihlah bersikap lembut hati.