Jangan berhenti belajar (1)
Tuhan telah menciptakan kita dengan kemampuan untuk terus belajar sampai kita mati. Rata-rata otak memiliki berat sekitar 1,4 kg, namun ahli saraf mengatakan bahwa kita memiliki kemampuan untuk mempelajari sesuatu yang baru setiap detik, setiap menit, setiap jam, setiap hari hingga hari kematian kita. Luar biasa, benar?
Tapi ini lebih dari itu. Ini adalah tanggung jawab yang luar biasa. Belajar bukanlah sebuah kesenangan; ini masalah penatalayanan. Kata Yesus, ‘Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu dan dengan segenap kekuatanmu.’ (Markus 12:30) Tidak mungkin menentukan berapa persen pikiran yang kita gunakan, namun kita semua mempunyai potensi yang belum dimanfaatkan. Imajinasi Anda mampu melakukan lebih dari apa yang dapat Anda impikan. Namun dalam perjalanannya, kebanyakan dari kita berhenti hidup dari imajinasi dan mulai hidup dari ingatan. Kita berhenti merancang masa depan dan mulai meniru masa lalu. Dan itulah hari dimana kita berhenti hidup dan mulai sekarat. Mengapa? Karena kita berhenti mendidik diri kita sendiri.
Mengasihi Tuhan dengan segenap akal budi menuntut kita untuk memaksimalkan pikiran kita dengan belajar apapun sebanyak mungkin. Yakinkan diri Anda dengan kenyataan bahwa Tuhan bukanlah objek pemahaman, melainkan Dia adalah sumber keajaiban. Dan rasa takjub yang sakral itu menyulut rasa ingin tahu yang suci untuk terus belajar lebih banyak tentang Sang Pencipta dan ciptaan-Nya.